Cara Asyik Melepaskan Diri Dari Julukan Karet

5 Cara Asyik Melepaskan Diri Dari Julukan Karet

Karet. Terdengar simpel, tapi menyakitkan. Apalagi kalau sampai menempel di diri kita. Pasti kita kesal disebut sebagai orang yang selalu terlambat. Tapi, mau bagaimana? Realitanya seperti itu.

Sahabat Loka ada yang mendapat julukan seperti itu? Tenang, Anda tidak sendiri. Saya pernah berada di posisi karet, dengan catatan waktu terlambat 30 menit. Awalnya, saya menganggap biasa. Toh, jalanan macet, apalagi di Jakarta. Menunggu angkutan pun lama.

Tapi, lama kelamaan, saya berpikir ulang. Kasihan teman saya yang harus membuang waktunya demi menunggu saya. Sedangkan, saya dengan santainya menyalahkan macet atas kekaretan itu. Dia maklum, tapi pasti hatinya kesal. Permakluman teman itulah yang membuat saya memutuskan untuk berubah dan tidak karet lagi.

Nah, sekarang saya mau bagi-bagi tips buat Sahabat Loka yang ingin melepaskan diri dari karet. Cekidot!

1. Bangun Lebih Pagi

Kita punya rutinitas pagi di rumah yang tetap harus dikerjakan? Jangan jadikan itu alasan untuk telat. Bangunlah lebih pagi, dan kerjakan semua rutinitas itu. Kerjakan sebagaimana kita mengerjakan di hari biasa, atau bahkan lebih cepat. Jam janjian memang mungkin masih lama, tapi jika kita bersantai-santai, dijamin, kita telat lagi.

2. Teror Alarm

Jam berapa kita janjian? Pasang alarm untuk beberapa waktu, misalnya satu dan dua jam sebelum janjian. Bisa juga disetel satu dan dua jam sebelum berangkat. Set sesering mungkin. Kalau alarm sering bunyi, kita akan merasa terteror.

3. Siapkan Sejak Malam

Sebelum tidur, pastikan kita sudah menyiapkan barang bawaan kita sejak malam. Fungsinya supaya kita tidak grasa-grusu mencari barang yang mau dibawa, dan ujung-ujungnya telat. Siapkan juga baju yang akan dipakai. Namanya muslimah, terkadang kita butuh waktu untuk memilih pakaian yang cocok. So, lebih baik ditentukan duluan.

4. Berangkat Lebih Awal

Buat kita-kita yang tinggal di kota besar, macet adalah makanan sehari-hari yang sudah tidak layak lagi dijadikan alasan telat. Kalau biasanya ke satu tempat butuh waktu satu jam, sekarang bisa lebih. Sebaiknya kita tidak berpatokan sama “dulu” atau “biasanya”. Berangkat lebih awal supaya tidak terlambat.

5. Rogoh Kocek Lebih Dalam

Konsekuensi kalau kita telat berangkat adalah terlambat sampai tujuan. Jika itu yang terjadi, sudilah kita untuk merogoh kocek lebih dalam demi menyewa angkutan yang lebih cepat, seperti ojek. Hitung-hitung, sebagai wujud komitmen kita untuk mentaati waktu. Tapi, jangan juga disepelekan. “Ah, nanti aja, naik ojek cepet.” Sekali kita menyepelekan, selanjutnya kita akan kembali telat.

Jangan sampai label karet itu melekat sepanjang hayat. Kita sendiri yang akan disusahkan oleh label itu. Berapa banyak orang yang harus memaklumi kekaretan kita, dan berapa banyak juga hati yang kesal karena itu. Telat sekali, harusnya jadi pelajaran buat kita supaya tidak terulang lagi.

Jadi, Sahabat Loka, mari bersiap melepaskan label karet!